Nama : Lintang Marlina Dewanti
Kelas : 4 Kimia 3
NIS : 7140
PENGAWET ALAMI BUNGA CENGKEH
Cengkih merupakan pengawet alami yang
dihasilkan dari bunga tanaman cengkih. Selain sebagai pengawet, cengkih juga
berfungsi sebagai penambah aroma. Bagi masyarakat
Indonesia, cengkeh merupakan salah satu bumbu rempah yang biasa digunakan di
dapur. Namun, sebenarnya masih banyak manfaat dibalik tampilan sederhana cengkeh.
Apa saja yang mampu dilakukan cengkeh yang kemudian disebut sebagai rempah
super oleh para peneliti?
Cengkeh kini
diyakini sebagai rempah-rempah super karena dianggap memiliki kandungan
antioksidan alami yang tinggi. Demikian diungkap peneliti asal Spanyol.
Kandungan senyawa phenolic merupakan kunci dari tingginya antioksidan pada
cengkeh.
Antioksidan
sangat penting untuk menjaga makanan tetap segar dan penemuan itu dapat
berimplikasi luas terhadap industri makanan sekaligus bermanfaat bagi kesehatan.
Penelitian itu disebut sebagai salah satu alasan positif untuk mendorong
semakin banyaknya produk alami seperti cengkeh yang dapat digunakan untuk
mengganti antioksidan sintetis yang banyak digunakan pabrikan untuk pengawet
makanan.
Profesor Fernandez
Lopez mengatakan, hasil penelitian itu menunjukkan kandungan oksidan alami
dalam rempah-rempah yang biasa digunakan dalam diet Mediterania, merupakan
salah satu pilihan utuk industri makanan selama karakteristik dari makanan tak
terpengaruh. “Cengkeh terbukti mengandung antioksidan tinggi dan dapat
bermanfaat bagi kesehatan,” ujar Lopez. Para peneliti juga sekaligus meneliti
efek antioksidan dalam beberapa minyak serta rempah lain yang biasa digunakan
dalam pola makan Mediternaia seperti oregano, daun thyme, rosemary dan sage.
Para peneliti
berusaha menemukan rempah terbaik yang dapat digunakan untuk produk makanan
terutama daging, sebagai antioksidan alami. Lopez menemukan, antioksidan bisa mengawetkan
makanan agar tetap segar karena menunda prosis oksidasi. “Proses oksidasi
merupakan salah satu alasan dari pembusukan makanan dan menyebabkan menurunkan
kandungan nutrisi sekaligus rasa,” ujarnya.
Alternatif
tersebut, lanjut Lopez, diharapkan dapat mengurangi penggunaan antioksidan
sintetis pada industri makanan serta memperpanjang usia konsumsi produk
makanan. Dia menambahkan, adanya rencana untuk menanam produk cengkeh sebagai
antioksidan alami yang dapat digunakan untuk mengganti antioksidan sintentis.
Orang awampun
saat ini sudah tahu apa itu "antioksidan". Antioksidan yang
terkandung di dalam berbagai makanan membantu kita untuk mencegah berbagai
penyakit bagi orang yang sadar akan kesehatan. Banyak bahan alami seperti
buah-buahan, sayu mayur, minuman mengandung antioksidan, dan banyak orang cenderung
makin banyak mengkonsumsinya untuk menjauhkan diri dari penyakit. Para peneliti
Spanyol melalui penelitiannya, telah menemukan bahwa terdapat kandungan
antioksidan yang tinggi di dalan cengkeh, yang selama ini hanya dikenal sebagai
bagian dari bumbu masak. Penemuan para peneliti Spanyol ini akan membuat
perbedaan besar akan kegunaan cengkeh selama ini menjadi bahan untuk kehidupan.
Secara
konvesional, cengkeh hanya dipergunakan sebagai bahan pengawet makanan. Tetapi
sekerang, seperti yang dipercayai para peneliti tersebut, cngkeh memiliki
kegunaan yang lebih luas. Menurut Profesor Juana Fernandez-Lopez dari
Universitas Miguel Hernandez Spanyol, cengkeh memiliki kemampuan dalam
penyerapan Hidrogen, mengurangi peroksidasi lemak, dan mengurangi zat besi.
Dengan demikian, hal ini memungkinan, cengkeh dapat menjadi pilihan bagi pabrik
makanan yang saat ini menggunakan antioksidan sintetis. Kandungan fenolic
kompleks yang tinggi di dalam cengkeh adalah zat yang bertanggungjawab menjadi
bahan antioksidan tersebut, kata sang Profesor.
Ternyata ada lagi
catatan tentang cengkih yang lebih tua. Di Siria, Timur Tengah, sebuah
penggalian arkeologis menemukan guci berisi bunga cengkih kering. Dalam guci
tersebut ada iskripsi angka 1721 SM, yang menunjukkan tahun diperolehnya bunga
cengkih tersebut. Berarti, bunga cengkih dari Maluku ini, secara estafet, sudah
melanglangbuana lebih awal, dan lebih jauh lagi. Penemuan arkeologis ini,
kemudian juga dikuatkan oleh hasil penelitian mikroskopis, bahwa bunga cengkih
merupakan salah satu unsur rempah-rempah, yang digunakan untuk mengawetkan mumi
para firaun di Mesir Kuno, pada periode sekitar 2000 tahun SM. Jadi, cengkih
sudah merupakan komoditas sangat penting sejak tahun 2000 SM.
Komoditas bunga
cengkih tetap menduduki peringkat harga tertinggi dibanding komoditas rempah
lain, sampai dengan diketemukannya freezer (mesin pendingin), pada tahun
1748, oleh William Cullen (1710 –1790). Cullen seorang ahli fisika, kimia, dan
pertanian dari Skotlandia, Inggris. Sebelum ada freezer, tiap musim
gugur masyarakat Eropa harus memotong sapi dan domba jantan mereka, agar tidak
menghabiskan cadangan jerami dan rumput kering selama musin dingin. Setelah
dipotong dan dikuliti, karkas itu harus disimpan di ruang tertutup, agar tidak
dimakan binatang buas. Supaya tetap segar sampai musim semi nanti, daging itu
harus dilumuri serbuk bunga cengkih. Ketika itu nilai cengkih sedemikian
tingginya, hingga 1 kg, setara dengan 7 gram emas.
Sebagai komoditas
penting, manfaat ada dua. Pertama untuk bumbu (makanan dan minuman), kedua untuk
industri farmasi. Pada zaman Mesir Kuno, cengkih digunakan sebagai pengawet
mumi para firaun, bersama dengan kayu manis (Cinnamomum zeylanicum, dan Cinnamomum
burmannii), karena dua jenis rempah ini memiliki kemampuan anti bakteri dan
fungi paling tinggi dibanding bahan rempah lainnya. Zat utama yang terkandung
dalam cengkih, dan berkhasiat sebagai anti bakteri serta fungi adalah acetyl
eugenol. Selain itu cengkih masih mengandung beta-caryophyllene,
vanillin, crategolic acid, tannins, gallotannic acid, methyl salicylate
(painkiller), eugenin, kaempferol, rhamnetin, eugenitin, triterpenoids dan
beberapa zat sesquiterpenes.
Sampai dengan tahun 1770, cengkih
menjadi komoditas yang istimewa, bukan hanya karena khasiatnya, melainkan juga
karena ketersediaannya. Habitat asli cengkih hanyalah kepulauan Maluku Utara,
yakni Bacan, Makian, Moti, Ternate, dan Tidore). Anehnya, cengkih tidak tumbuh
di pulau-pulau besar di Maluku Utara seperti Kepulauan Sula, Pulau Obi,
Halmahera, dan Morotai. Hingga habitat asli tanaman cengkih memang sangat
sempit. Bangsa Portugis, dan kemudian Belanda, yang menguasai Maluku, menjaga
sangat ketat, agar buah (biji) cengkih tidak sampai lolos keluar. Akan tetapi
tahun 1770, seorang ilmuwan Perancis berhasil menyelundupkan beberapa biji
cengkih ke Mauritius.
Sejak itulah cengkih berkembang pesat
di Madagaskar, Zanzibar, Brasil, Guyana, dan Kepulauan Karibia. Di Zanzibar,
cengkih bermutasi menjadi lebih subur, dan lebih produktif, hingga menjadi
varietas baru, yakni varietas Zanzibar, yang jauh lebih unggul dari cengkih di
habitat aslinya, di Maluku Utara. Harga cengkih langsung anjlok drastis. Pas
bersamaan dengan menyebarnya cengkih ke kawasan tropis di seluruh dunia, freezer
juga diproduksi massal, hingga masyarakat Eropa, China, Jepang, dan kemudian
juga Amerika, tidak perlu lagi memborong cengkih untuk melumuri daging sapi dan
domba pada musim dingin. Belakangan di Indonesia, diketemukan inovasi
membubuhkan cengkih pada rokok, yang disebut keretek. (F. Rahardi)
Sumber : http://aeryajanatiti.blogspot.com/2013/04/pengawet-alami-bunga-cengkeh.html




Tidak ada komentar:
Posting Komentar