Merupakan suatu instrumen yang digunakan untuk menganalisis senyawa-senyawa organik yang dapat diuapkan dalam GC diamana titik uapnya antara 200o C- 350o C. Biasanya senyawa-senyawa yang memiliki massa molekul relatif kecil. Detektor yang digunakan dsesuaikan dengan senyawa yang dianalisis.
GC biasanya memakai detektor flame ionization detector (FID) atau
thermal conductivity detector (TCD). Sedangkan GC-MS detektornya
menggunakan mass spectrometer (spektrometer massa).
F Detektor pada GC :
· Thermal Conductivity Detector (TCD)
Prinsip
dasar adalah perubahan konduktivitas panas dari gas yang mengalir lewat
detektor ini karena adanya solute didalamnya. Memiliki respon yang baik
terhadap zat organic maupun anorganik pada umumnya, dan senyawa-senyawa
yang memiliki gugus halogen, N, dan S, sifatnya sederhana, non
destruktif terhadap sample.
· Flame Ionization Detektor (FID)
Detektor
ini tidak sensitive terhadap gas yang tidak terbakar seperti H2O, CO2,
SO2, dan NO2. Detektor ini berguna sebagai detektor umum untuk zat-zat
organic,senyawa hidrokarbon, termasuk yang terkontaminasi dengan uap
air, oksida nitrogen, dan belerang. Kelemahan destruktif terhadap
sample.
· Thermionic Detector (TD)
Detektor
ini sensitive terhadap senyawa organik yang mengandung fosfor dan
nitrogen. Respon terhadap atom phosphor kiri-kira 10 kali lebih besar
daripada respon terhadap atom nitrogen dan 104 sampai 106 lebih besar
daripada responya terhadap atom karbon. Dibandingkan dengan FID, maka TD
detector 500 kalli lebih sensitive daripada FID untuk senyawa yang
mengandung fosfor dan 50 kali untuk senyawa yang mengandung nitrogen.
Sifat ini menyebabkan TD cocok untuk analisis pestisida yang mengandung
phosphor.
· Electron Capture Detector (ECD)
Detektor
ini sangat sensitive terhadap molekul yang mengandung gugus fungsional
elektronegatif, seperti halogen, peroksida, quinon, dan nitro group.
Tidak sensitive terhadap amine, alcohol, hidrokarbon. ECD sangat cocok
untuk analisis insektisida terklorinasi
· Detektor Fotometri Nyala
Detektor
ini sensitive terhadap senyawa organik yang mengandung sulfur dimana
panjang gelombang yang digunakan adalah 393 nm. Jika panjang gelombang
yang digunakan adalah 526 nm maka detektor ini sensitiv terhadap senyawa
fosfor.
· Detektor Fotoionisasi.
Detektor ini sensitive terhadap senyawa organik yang dapat terionisasi dengan UV.
· Detektor Mass Spectroscopy (MS)
MS
digunakan sebagai detector untuk senyawa secara umum yang bisa
dianalisa oleh GC. Digunakan untuk mengetahui BM senyawa yang dianalisis
sehingga dapat diketahui struktur molekulnya.
· Nitrogen Phosphor Detector (NPD)
Detektor ini sensitive terhadap senyawayang mengandung unsure nitrogen dan fosfor..
GC-MS
Perkembangan
teknologi instrumen menghasilkan alat yang merupakan gabungan dari dua
sistem dan prinsip dasar yang berbeda satu sama lain tetapi dapat saling
melengkapi, yaitu gabungan antara kromatografi gas dan spektrometer
massa (GC-MS). Kedua alat dihubungkan dengan satu interfase.
Kromatografi gas disini berfungsi sebagai alat pemisah berbagai komponen
campuran dalam sampel, sedangkan spektrometer massa berfungsi untuk
mendeteksi masing-masing molekul komponen yang telah dipisahkan pada
sistem kromatografi gas. Dari kromatografi GC-MS akan diperoleh
informasi struktur senyawa yang terdeteksi.
Dalam kromatografi gas, pemisahan terjadi ketika sampel diinjeksikan ke
dalam fase gerak. Fase gerak yang biasa digunakan adalah gas inert
seperti helium. Fase gerak membawa sampel melalui fase diam yang
ditempatkan dalam kolom. Sampel dalam fase gerak berinteraksi dengan
fase diam dengan kecepatan yang berbeda-beda. Saat terjadi interaksi
yang tercepat akan keluar dari kolom lebih dulu, sementara yang lambat
akan keluar paling akhir. Komponen-komponen yang telah terpisah kemudian
menuju detektor. Detektor akan memberikan sinyal yang kemudian
ditampilkan dalam komputer sebagai kromatogram. Pada kromatogram, sumbu x
menunjukkan waktu retensi (retention time yaitu waktu saat sampel
diinjeksikan sampai elusi berakhir), Sedangkan sumbu y menunjukkan
intensitas sinyal.
Dalam detektor selain memberikan sinyal sebagai kromatogram,
komponen-komponen yang terpisah akan ditembak elektron sehingga terpecah
menjadi fragmen-fragmen dengan perbandingan massa dan muatan tertentu
(m/z). Fragmen-fragmen dengan m/z ditampilkan komputer sebagai spektra
massa, dimana sumbu x menunjukkan perbandingan m/z sedangkan sumbu y
menunjukkan intensitas. Dari spektra tersebut dapat diketahui struktur
senyawa dengan membandingkannya dengan spektra massa standar dari
literatur yang tersedia dalam komputer. Pendekatan pustaka terhadap
spektra massa dapat digunakan untuk identifikasi bila indeks kemiripan
atau Similarity Indeks (SI) berada pada rentangan ≥80% (Howe and
Williams, 1981).
Analisis GC-MS merupakan metode yang cepat dan akurat untuk memisahkan
campuran dalam jumlah yang kecil, dan menghasilkan data yang berguna
mengenai struktur serta identitas senyawa organik.
Sumber : http://anekakimia.blogspot.com/2011/06/instrumen-kimia-gas-chromatography-gc.html
Sumber : http://anekakimia.blogspot.com/2011/06/instrumen-kimia-gas-chromatography-gc.html


Tidak ada komentar:
Posting Komentar